Selasa, 13 Februari 2018

Review Film :Tokyo Ghoul (2017)


Siapa yang masih suka baca manga (komik) Jepang? Kalau kalian suka baca komik Jepang, so welcome to the club! Aku bisa dibilang masih menggandrungi manga Jepang, walaupun ga gandrung-gandrung amat ya. Secara drama Korea dan serial Netflix jaman now mudah diakses jadi mengurangi waktu membaca manga. Bagi penyuka manga Jepang pasti ga asing dengan judul "Tokyo Ghoul". Manga terkenal yang kemudian dibuat serial anime-nya ini akhirnya diangkat ke live action. Sebagai salah satu pembaca manga-nya, tentu aja aku ga mau melewatkan seri live action-nya. Aku emang ga interest nonton anime-nya (maklum kutu buku, gimana-gimana lebih suka versi asli) tapi aku ga keberatan menjajal film-nya.


Sebelum mengomentari versi film Tokyo Ghoul, ada baiknya kenalan dulu dengan latar belakang dan dunia yang diceritakan dalam seri Tokyo Ghoul. Buat pembaca setia-nya (kaya saya, ehem) pasti uda ga asing dengan "darah" dan "daging manusia" yang menghiasi lembaran demi lembaran manga-nya. Yup, Tokyo Ghoul bercerita tentang keberadaan makhluk —disebut Ghoul, yang tingkatannya lebih tinggi dari manusia dalam rantai makanan. Kenapa lebih tinggi? Karena makanan mereka adalah manusia. 

Sabtu, 16 Desember 2017

Book Review : Heroes of Olympus "Mark of Athena"

Pengarang: Rick Riordan
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Disney Hyperion Books
Genre: Fantasy, Fiction, Adventure
Negara: USA
Pages: 586 Pages

Rating : 5/5

Sinopsis Dari Cover Belakang :

Rencana Annabeth menjemput Percy dengan damai ternyata gagal dilakukan. Leo mengacau membuat perkemahan Jupiter memburunya. Namun, misi Ramalan Tujuh harus tetap dilaksanakan. Dibayangi kejaran para mata-mata dan pasukan demigod Roma, Percy, Frank, Hazel, Jason, Piper, Leo dan Annabeth tetap berusaha mencegah rencana jahat Gaea, berlayar menuju negeri kuno di Roma.

Dalam perjalanan penuh tantangan itu, Annabeth yang baru saja merasakan sedikit kebahagiaan setelah bertemu Percy, menyimpan kegalauan. Titah sang Ibu, Athena, untuk mengikuti Tanda Athena dan menghancurkan Roma terus membebaninya. Haruskah dia mengkhianati Percy dan teman-teman Roma barunya demi mengikuti Tanda Athena?

Bersama empat narator, Mark of Athena akan membawa kita ke dalam petualangan melintasi angkasa dan samudra yang penuh jebakan dan terror mengerikan.


MY REVIEW:

"Wisdom's Daughter Walks Alone"

Argo II tiba di Perkemahan Jupiter sesuai rencana. Awalnya mereka dilarang mendarat karena dianggap sebagai ancaman —dan juga karena demigod Romawi dan Yunani tidak seharusnya bertemu menurut kebaikan mereka sendiri. Pertemuan kedua perkemahan ini dikhawatirkan hanya akan mengakibatkan perang saudara. Para Dewa-Dewi sendiri sedang menderita sakit kepala berat akibat kedua kepribadian mereka (satu Yunani satu Romawi) memaksa eksis di saat bersamaan. Semua ini dimulai semenjak pertaruhan yang dilakukan Hera —yaitu mengirim Jason ke Perkemahan Blasteran dan mengirim Percy ke Perkemahan Jupiter. Tapi menurut Juno —atau Hera, hanya itulah satu-satunya cara agar mereka bisa mengalahkan Gaea dan pasukannya. Itulah saat ini tujuan para penumpang Argo II, datang dengan damai untuk mencapai persatuan. Sekaligus untuk menjemput sahabat mereka, Percy Jackson.

Sabtu, 25 November 2017

Review Stranger Things Season 1 and 2

Setelah berhasil merampungkan 13 Reason Why, ternyata serial-serial nya Netflix ini nyandu ya. Aku jadi gelisah, ada perasaan hampa di hati —alah, waktu ga nonton apa-apa setelah namatin 13 Reason Why. Setelah berpikir ulang dan menghapus beberapa kandidat, serial berikutnya yang pengen aku pelototin di laptop jatuh pada Stranger Things


Kenapa serial ini —dan lagi-lagi, bukan Games Of Throne? Pertama, GOT bukan punya Netflix —duh. Kedua, sejak nonton IT aku terpesona dengan nuansa jadul yang diperlihatkan secara apa adanya oleh para aktor-aktor ciliknya. Banyak yang bilang persahabatan The Losers mengingatkan mereka akan persahabatan anak-anak dalam Stranger Things. Apalagi salah satu pemain IT juga main di Stranger Things. Jadilah aku babat habis serial ini dua season sekaligus! Ga mau rugi dong ya —emang konteks nya apa coba? Abaikan.


Jumat, 17 November 2017

Review 13 Reason Why from Netflix


"Hey, it's Hannah, Hannah Baker. That's right. Don't adjust your... whatever device you're listening to this on. It's me, live and in stereo. No return engagements, no encore. And this time absolutely no requests. Get a snack. Settle in. 'Cause I'm about to tell you the story of my life." - Hannah Baker 

13 Reason Why adalah serial Netflix pertama-ku. Okay, I know. I'm SO late. Serial ini uda tayang sejak tanggal 31 Maret 2017 yang lalu, and aku baru aja selesai nonton di bulan... November? Yeah, not happening. Katakanlah, aku bukan kids jaman now yang selalu ikut arus dengan nontonin apa yang lagi happening di internet as soon as possible. I have my own taste —my own time. Ga peduli taste-ku mungkin ga selaras dengan jaman now atau enggak. Contohnya, di saat semua orang uda nonton Game of Thrones —dan membicarakan tentang keren-nya serial itu, aku jadi yang paling ketinggalan sendiri karena sampai detik ini aku BELUM nonton. 

Demikian hal-nya dengan serial 13 Reason Why ini. Aku sejujurnya uda tertarik banget waktu si cantik Selena Gomez upload tentang serial ini di instagram pribadinya. Aku pikir dia akan ikut main atau ngisi soundtrack-nya. Ternyata dia termasuk yang kedua. Sekilas baca sinopsis-nya aku langsung suka sama premis 13 Reason Why. Apalagi setelah tahu serial ini diangkat dari novel dengan judul serupa karangan Jay Asher. I love books, and when book turn into movie or TV series, it must be good enough. So I want to try it


Sabtu, 04 November 2017

Book Review : Heroes Of Olympus "The Son Of Neptune"

Pengarang: Rick Riordan
Tahun Terbit: 2011
Penerbit: Disney Hyperion Books
Genre: Fantasy, Fiction, Adventure
Negara: USA
Pages: 521 Pages

Rating : 4.5/5

Sinopsis Dari Cover Belakang:

"Di selatan, di Negeri Nirdewa, mahkota legiun bersemayam.
Terjatuh dari es, putra Neptunus akan tenggelam...“

Saat terbangun dari tidur panjang, selain namanya sendiri, Percy hanya bisa mengingat sebuah nama—Annabeth. Dia bahkan tidak bisa mengingat siapa dia ataupun alasan kenapa banyak monster mengejar dan ingin membunuhnya. Tubuh Percy secara reflex berusaha melawan mereka dan bertahan hidup selama mungkin.

Dalam pelariannya dari para monster, dia menemukan sebuah perkemahan khas Roma. Perkemahan yang ternyata berisi anak-anak blasteran. Namun, Percy merasa itu bukan tempatnya walaupun dia tidak tahu apa alasannya. Dan, di sana dia menemukan sebuah ramalan yang harus dijalaninya. Bersama dua rekan barunya—Hazel dan Frank, Percy pun menjalani sebuah misi berbahaya untuk mencegah sebuah perang besar.



MY REVIEW :

Di review sebelumnya yaitu di akhir buku "The Lost Hero" aku sempat bilang bahwa semua rahasia akhirnya terungkap. Dimana kira-kira Percy berada dan kenapa Percy harus pergi —atau katakanlah disembunyikan. Hera —biang keladi semua ini, menempatkan Percy di tempat asal Jason. Mengetahui bahwa Percy ada di tempat asal Jason tidak serta merta membuat Annabeth menemukan Percy. Yang pasti Leo saat ini dalam sedang misi pribadi, merakit sebuah kapal besar yang bisa digunakan untuk menghadang sang musuh utama bangkit dari tidur panjangnya. Ramalan Besar mengenai tujuh demigod mulai terkuak —Leo, Jason, Piper dan Annabeth jelas termasuk dalam ketujuh demigod. Mereka masih belum tahu siapa tiga lainnya. 

Tapi sebelum lanjut kesana mari mundur sebentar. Mari lihat dari sudut pandang Percy, bagaimana keadaan-nya dan bagaimana rasanya menjadi Percy yang sedang menghilang?


Percy terbangun dari tidur lamanya di rumah seekor Serigala sakti bernama Lupa (beberapa bulan setelah Jason, Piper dan Leo bertarung dengan raksasa di buku "The Lost Hero") —tanpa memiliki ingatan apapun tentang dirinya selain nama dan kenyataan ia anak Dewa Poseidon. Satu hal lagi, sebuah nama —Annabeth (ouuww so sweet!). Ia dilatih dengan keras oleh Lupa untuk menjadi Pahlawan yang tahan uji. Lulus dari pelatihan Lupa, akhirnya Percy bebas dan bisa melanjutkan perjalanan untuk menemukan jati dirinya sekaligus seluruh ingatannya. Tapi pertama-tama ia harus menghadapi dua gorgon yang terus hidup kembali walaupun ia telah membunuh mereka berulang kali. Cuma masalah waktu sampai ia kelelahan dan kedua gorgon ini akan berhasil membunuhnya.

Jumat, 27 Oktober 2017

Korean Drama : While You Were Sleeping

It's time for Korean Drama again!!
Yeay... finally after a long time, aku nemu Drama Korea yang bikin aku niat buat nulis review!


Working Title: While You Were Sleeping < 당신이 잠든 사이에 >

Genre: Supernatural, Romance, Fantasy

Director: Oh Choong Hwan [Doctors, My Love from the Star]

Writer: Park Hae Ryun [Dream High, I can Hear Your Voice, Pinocchio]

Episodes: 16 (32)

Network: SBS

Production: iHQ

Airing date: 27 September 2017 - 16 November 2017

Filming process: Pre-produced


Setelah Goblin ga ada drama yang benar-benar menarik hati di tahun 2017 ini. Beberapa drama Detektif ada yang oke sih kaya Defendant-nya Jisung atau Tunnel-nya Choi Jun Hyuk. Tapi sebagus-bagusnya dua drama itu, mereka sama sekali ga menarik minatku untuk nulis something di blog. 

This October, muncul-lah drama baru dari penulis drama terkenal "I Can Hear Your Voice" dan "Pinocchio" yaitu "While You Were Sleeping" yang serta merta bikin aku pengen nulis review tentang Drama Korea.

Penulis drama Park Hae Ryun memang salah satu penulis drama favoritku selain Kim Eun Sook —penulis Drama Goblin. "I Can Hear Your Voice" —ada artikelnya di blog ini (ada tiga atau lebih kalo ga salah) dan "Pinocchio" merupakan salah dua dari drama Korea terkeren sepanjang masa yang ga akan pernah aku lupakan. Jadi ga heran kalau "Where You Were Sleeping" serta merta menarik minat-ku untuk comeback ke drama's world lagi.

Setelah tahun 2016 yang dipenuhi drama berkualitas dan ga bisa dilewatkan, di tahun 2017 ini para pecinta drama Korea harus gigit jari karena drama-drama bermutu kayanya sudah habis diputar di tahun 2016. Jadi ketika Park Hae Ryun nulis drama baru lagi, I'm super excited! Akhirnya, tahun 2017 ga keliatan terlalu menyedihkan dengan adanya drama Park Hae Ryun!

Selasa, 03 Oktober 2017

Review Buku : Heroes of Olympus "The Lost Hero"

Pengarang: Rick Riordan
Tahun Terbit: 2010
Penerbit: Disney Hyperion Books
Genre: Fantasy, Fiction, Adventure
Negara: USA
Pages: 557 Pages

Rating : 3/5

Sinopsis dari Cover Belakang:

“Tujuh Demigod akan menjawab panggilan.
Karena badai atau api dunia akan terjungkal—”

Tiga Demigod baru bergabung di perkemahan Blasteran.

Jason yang tidak bisa mengingat jati dirinya, Piper yang penuh misteri, dan Leo dengan kemampuan mekaniknya yang luar biasa.

Bersama-sama, ketiganya mengemban sebuah misi penyelamatan.

Misi yang juga akan mengungkap sebuah rahasia besar mereka di masa lalu.

Bergabunglah dengan para Demigod dari Perkemahan Blasteran dan nikmati petualangan serunya!!


MY PREVIEW:

Sedikit kilas balik dari ending serial Percy Jackson and The Olympians: Bangsa Olympus menang melawan Kronos dan pasukannya. Para Dewa kembali berjaya dan Percy menolak tawaran Zeus untuk menjadi salah satu Dewa Minor yang akan mendampingi ayahnya, Poseidon. Percy lebih memilih hidup sebagai manusia —mostly karena ia ingin bersama Annabeth dibanding menjadi Dewa *so sweet*. Tapi sebagai gantinya Percy meminta para Dewa untuk mengklaim setiap anak-nya di Perkemahan Blasteran. Percy menepati janjinya kepada Luke sebelum Luke meninggal, Percy menjamin agar tidak ada lagi demigod yang merasa terbuang atau terlupakan seperti Luke ataupun Ethan Nakamura. Percy juga meminta para Dewa melepaskan hukuman-nya terhadap Calypso di Pulau Ogygia

Setelah itu diketahui bahwa Rachel adalah utusan atau bejana dari Roh Delphi (peramal yang ada di Perkemahan) yang baru. Keputusannya untuk merengkuh takdir sebagai Oracle yang baru menjadikannya selibat —Rachel tidak bisa jatuh cinta dengan laki-laki manapun. Baru saja dilantik jadi Oracle yang baru, seketika Rachel melontarkan ramalan baru —"The Great Propechy". Ramalan Besar baru mengenai tujuh demigod yang terpanggil untuk menjawab panggilan. Tidak ada yang tahu untuk siapa ramalan itu diberikan. 

Percy dan Annabeth lantas jadian (horay!) dan sementara keadaan damai dan tenang. Dunia selamat, Kronos binasa, Ramalan Tujuh belum jelas untuk siapa —hei, bisa jadi untuk demigod generasi berikutnya.. bukan malasalah (yeah, yang benar saja). Annabeth kira ia bisa beristirahat dan menikmati kedamaian. Tapi, benarkah begitu?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...